RSUD KARANGASEM











    Tinjauan sanitasi kesehatan lingkungan RSUD Karangasem

 A.   Penyehatan Bangunan dan Ruangan

Orientasi terhadap penyehatan bangunan dilakukan yakni dengan melakukan pengukuran pencahayaan, kebisingan, suhu, kelembaban dengan hasil :

1     Sal Mawar

·   Kebisingan       : 52,1 dBA

·   Pencahayaan     : 25 Lux

·   Suhu                  : 29˚C

·   Kelembaban      : 80 %

2.   Sal Kenanga

·   Kebisingan       : 49,8 dBA

·   Pencahayaan     : 345 Lux

·   Suhu                  : 29˚C

·   Kelembaban      : 80 %

                  3.   VIP

·   Kebisingan       : 52,0 dBA

·   Pencahayaan     : 1280 Lux

·   Suhu                  : 28˚C

·   Kelembaban      : 86%

      Kebersihan lantai dilakukan pengepelan setiap pagi dengan alat pengepel sederhana.

b.   Penyehatan Air

      Penyediaan air bersih di RSUD Karangasem bersumber dari PDAM dengan rata-rata pemakaian 43 m³/hari.Air bersih di RSUD karangasem ini didistribusikan dengan system perpipaan ( pipa PVC dan besi) dan tidak ditampung ke dalam tower. Dalam Pengawasan kualitas air bersih  kami melakukan  pengambilan sample pada dapur dan instalasi laundry. Kami melakukan pemeriksaan sisa chlor dan PH dengan hasil untuk dapur memiliki sisa chlor 0,2 ppm dan PH 7,5 jadi tingkat pencemaran air di dapur tergolong rendah. Pemeriksaan pada laundry  memiliki sisa chlor 0,2 dan PHnya 7,5, jadi tingkat pencemaran pada air tersebut juga tergolong rendah. RSUD Karangasem sudah 2 tahun tidak melakukan pemeriksaan bakteriologis air secara berkala akibat dari tidak adanya rekomendasi dari pihak RS ke Dinas Kesehatan untuk melakukan pemerikasaan.

c.   Penanganan Sampah dan Limbah Medis

      Penanganan sampah dibedakan menjadi 2 yaitu pengolahan sampah padat dan cair.

Pengolahan sampah padat di di RSUD Karangasem dibedakan menjadi 2 yaitu pengolahan sampah medis dan non medis.

      Sampah non medis yang berasal dari ruangan unit pelayanan  dan halaman RS seperti kaleng, botol, ranting ,sisa pembungkus,kertas sisa makanan,dedaunan,bekas tissue dll.Proses pengelolaan yaitu dari tong sampah yang ada di masing-masing ruangan diangkut dengan kereta sampah oleh petugas pengangkut sampah menuju ke TPS kemudian dari TPS sampah diangkut dengan truk oleh petugas Dinas kebersihan lalu dibawa ke TPA. Kegiatan ini dilakukan setiap  pagio hari secara rutin.

      Sampah medis yang dihasilkan dari tindakan medis misalnya dari laboratorium, ruang pembedahan (OK),dari diagnosa tindakan medis terhadap pasien ,dari farmasi dll.Limbah tersebut dapat berupa jarum hipodermik, jaringan/organ tubuh manusia, pembalut, obat-obatan,perlengkapan intravernadll. Penanganan dilakukan dengan cara pada setiap ruangan penghasil sampah medisdisediakan tong sampah tertutup yang dialasi dengan tas plastic berwarna merahdan untuk bekas jarum-jarum suntik dibuang kedalam bekas botol air mineral.Setelah plstik dan bekas botol terisi penuh dengan sampah medis kemudian tas diikat dan lalu diangkut oleh petugas khusus yang bertugas untuk mengangkut sampah medis kemdian dibawa ke tempat pembakaran (incinerator) dan untuk bekas botol infuse tidak dibakar melainkan dijhual kepada pemulung.Kegiatan pembakaran ini dilakukan setiap hari senin sampai hari sabtu dari pukul 08.00 sampai selesai. Untuk hari minggu petugas incinerator libur sehingga volume sampah untuk hari senin lebih meningkat dari hari biasanya yang biasanya rata-rata volume sampah 10-15 kg menjadi 20-25 kg.Petugas incinerator  sudah menggunakan APD  seprti masker, helm,sarung tangan,sepatu untuk menghindari kecelakaan kerja akibat ledakan yang mungkin tiba-tiba muncul karena tekanan pada incinerator.

     Sisa hasil pembakaran sampah medis pada incinerator yang berupa abu ,botol bekas obat, jarum yang tidak habis dibakar dibuang di belakang incinerator  yang membuat estetika di lingkungan RS menjadi tidak enak dilihat.Standar operasional prosedur pemeliharaan incinerator terlampir pada lampiran.

      Pengolahan air limbah RSUD Karangasem yaitu Air limbah berasal dari kamar mandi, toilet, wastafel,OK, dapur,laundry  dll disalurkan menuju septic tank karena pada RSUD Karangasem belum memiliki instalasi pembuangan air limbah (IPAL) 

d.   Penyehatan Laundry / Tempat Pencucian Linen

      Linen kotor dari masing-masing ruangan dikumpulkan dan diambil oleh petugas binatu dari laundry dengan menggunakan kereta dorong dan diangkut tiap pagi.Pendistribusian linen kotor dan infeksius dibedakan dengan menggunakan plastic untuk menghindari terjadinya rekontaminasi.Pencucian linen dilakukan dengan merendam linen yang berasal dari penderita penyakit menular (infeksius) seperti TBC, Hepatitis dengan menggunakan desinfectan yang bernama lisol dengan perbandingan satu kali putaran pada mesin cuci sebanyak 30 ml selama 1 jam tergantung tingkat kekotoranya,sedangkan linen yang lain langsung dicuci dengan detergen biasa dan tanpa direndam terlebih dahulu.Untuk volume septictank pada instalasi laundry sudah jenuh sehingga air limbah balik meluap ke inlet. Pencucian menggunakan mesin yang berjumlah 3 unit dengan proporsi:mesin cuci 2 unit dan setrika biasa 2 unit. Apabila terdapat noda yang sulit dibersihkan seperti noda darah ,pencucian dilakukan dengan cara manual yaitu dengan cara menyikat. Pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran sederhana dengan bantuan sinar matahari dan bila pada musim hujan disiasati dengan disetrika terlebih dahulu,kemudian dijemur karena area untuk menjemnur tidak luas.Pakaian yang telah kering disetrika dan disemprot menggunakan pewangi pakaian, pakaian yang telah disetrika dilipat kemudian dipisahkan antara sal- sal sesuai dengan catatan. Pengangkutan linen yang telah bersih menuju zal dengan cara diantarkan langsung oleh petugas laundry atau diambil sendiri oleh pemiliknya. Didalam pengelolaan linen dikepalai oleh seorang kepala instalasi dan membawahi tiga staf. Jam kerja dari senin sampai kamis pukul 07.00 sampai 15.00 wita, hari jumat pukul 07.00 wita sampai pukul 13.00 wita sedangkan hari sabtu dan minggu dari pukul 07.00 wita sampai pukul 09.00 wita. Pada saat bekerja para pegawai menggunakan APD yaitu : sepatu boot, sarung tangan, pakaian kerja dan masker.      

 

e.   Upaya Penyehatan Makanan dan Minuman

      Observasi dilakukan pada instalasi gizi yaitu di dapur. Bahan makanan berasal dari rekanan (suplayer). Untuk bahan makanan basah disuplay setiap hari seperti sayur, daging dll sedangkan untuk bahan makanan kering seperti gula, beras, teh ,kopi dll disuplay 1 bulan sekali. Bahan makanan basah dipesan sehari sebelum diolah. Bahan makanan yang mudah rusak disimpan di kulkas dan bila bahan makanan dari suplayer rusak atau tidak sesuai dengan pesanan atau spesifikasi akan dikembalikan lagi kepada suplayer karena sudah adanya perjanjian. Pengolahan makanan dilakukan tiga kali sehari yaitu untuk makan pagi,siang,sore.Jumlah penjamah makanan atau pengolah makanan keseluruhan 20 orang yang terdiri dari tukang masak 14 orang dan ahli gizi 6 orang. Para penjamah makanan atau pengolah makanan dilengkapi APD berupa celemek.

        Peralatan sebelum digunakan telah dicuci dan pengeringan tetapi tidak menggunakan air panas sehingga belum aman digunakan. Penyimpanan alat pada rak tertutup dan ditata rapi sehingga mudah digunakan tidak terdapat alat yang mengkarat.

         Pengolahan makanan dilakukan dengan terlebih dahulu mencuci makanan yang diolah sedangkan pada makanan yang tidak diolah (langsung dimakan) dicuci terlebih dahulu  dengan pencucian tanpa air panas. Makanan yang matang sebelum ditempatkan pada tempat-tempat penyajian (plato) ditempatkan pada wadah-wadah tertutup. Pemberian porsi makan untuk pasien berdasarkan diet yang ditentukan leh petugas gizi dan dokter.

         Pendistribusian makanan dilakukan yakni makanan ditaruh pada tempat penyajian (plato) ditutup dengan plastic pembungkus dan dimasukkan dalamkereta yang tertutup untuk didistribusikan menuju pasien di sal-sal.Pembagian waktu pendistribusian menuju pasien disal-sal.Pembagian waktu pendistribusian makanan yakni pagi pukul 07.00, snack pagi pukul 10.00, siang pukul 12.00, snack sore pukul 15.00, sore pukul 17.00.

f.    Pengendalian Serangga dan Tikus

 

Pengendalian serangga dilakukan dengan pengamatan nyamuk  yang dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di kamar mandi ,halaman dll.Dengan hasil 1 buah pada pot bunga positif jentik  yang terdapat di halaman RS. Pengamatan kecoa dilakukan di dapur dengan hasil tidak ditemukan adanya kecoa maupun telur kecoa.Pengamatan tikus dilakukan pada ruang atau sal dengan hasil tidak ditemukanya tikus maupun kotoran tikus.

g.   Penyuluhan Kesehatan Lingkungan

Penyuluhan kesehatan lingkungan dilakukan dengan cara memberikan informasi kepada penunggu pasien tentang pentingnya penanggulangan penyakit demam berdarah karena demam berdarah merupakan penyakit menular yang ditularkan oleh nymuk aedes aegepty yang dapat menyebabkan kematian . Pemberantasan penyakit demam berdarah yang paling murah adalah dengan PSN dan gerakan  3Mplus. Tindakan tersebut dilkukan secara teratur dan berkelanjutan untuk memberantas jentik serta menghindari penyakit demam berdarah.

 

4.   Permasalahan

 

         Berdasarkan pelaksanaan  Praktek Kerja Nyata ( PKN ) yang kami lakukan di RSUD Karangasem ,dapat kami temukan permasalahan sebagai berikut :

a.       Penyehatan Bangunan dan Ruangan

- Kebisingan masih tinggi yaitu : Sal mawar 52,1dBA, Sal Kenanga    49,8 dBA  dan  VIP 52,0 Dba.

-  Pencahayaan masih kurang yaitu: Sal mawar yaitu 25 Lux

            b.   Penyehatan air

      -  Belum terlaksananya pemeriksaan berkala pada air secara bakterologis.

c.   Penanganan sampah dan limbah medis

-  Plastik pembungkus limbah tidak diisi label dan warna pembungkus masih 1 warna.

-  Belum adanya tempat khusus untuk membuang abu dari incinerator.

d.   Penyehatan laundry / tempat pencucian linen

-  Volume septictank pada instalasi laundry sudah jenuh sehingga air limbah balik meluap ke inlet

-  Area untuk menjemur pakaian sempit.

            e.   Upaya penyehatan makanan dan minuman

-  Pertemuan dinding dan lantai membentuk sudut mati

-  Penjamah makanan tidak menggunakan topi dan sarung tangan

-  Kebiasaan penjamah makanan berbicara saat mengolah makanan

-  Pencucian alat makan dan bahan makanan belum menggunakan air panas.

f.    Pengendalian serangga dan tikus

-  Ditemukan jentik nyamuk aedes aegepty

-  Ditemukan binatang liar seperti kucing

 

 

 

                                   

 

B.  PEMBAHASAN

          

1.   Penyehatan bangunan dan ruangan

a.   Kebisingan masih tinggi

         Kebisingan yang tinggi pada ruangan-ruangan atau sal-sal di RS dapat memberikan rasa tidak nyaman terhadap pasien ,pasien tidak dapat beristirahat dan merasa terganggu .Sumber kebisingan di rumah sakit berasal dari pembicaraan penunggu pasien, pembicaraan petugas / perawat, suara telepon / HP, suara kereta dorong makanan Kebisingan dapat dikurang dengan cara memberikan himbauan kepada para penunggu pasien maupun kepada para petugas agar tidak berbicara keras-keras, mengecilkan sura HP, mengecilkan suran musik,TV. Dan pada kereta dorong pembawa makanan diberi alat yang lebih untyuk meredam bunyi yang ditimbulkan akibat kereta dorong.Berdasarkan Kepmenkes RI No 1204 tahun 2004 ,batas maksimum kebisingan di rumah sakit yang diperbolehkan yaitu 45 dBA.Dari pengukuran kebisingan yang dilakukan pada sal mawar, sal kenanga dan VIP ,kesemuanya tidak memenuhi persyratan dengan hasil :

·               Sal mawar        :52,1 dBA

·               Sal Kenanga     : 49,8 dBA

·               VIP                   : 52,0 dBA

         Tingkat intensitas kebisingan rendah {dibawah NAB) secara fisiologis tidak menyebabkan kerusakan pendengaran namun kehadiranya sering menyebabkan stress dan gangguan kesehatan lainya.Stress yang disebabkan pemaparan kebisingan dapat menyebabkan terjadinya kelelahan, kegelisahan dan depresi ( Tarwaha,2004 )

    

b.   Pencahayaan masih kurang

         Berdasarkan pengukuran yang dilakukan didapatkan 1 tempat yaitu ruang atau sal mawar dengan hasil 25 Lux yang tidak memenbuhi persyaratan .Dalam Kepmenkes 1204 tahun 2007 ,intensitas cahaya pada ruangan pasien yaitu 100-200 Lux. Peningkatan intensitas cahaya dapat dilakukan dengan jalan menamnah lampu-lampu pada ruangan. Ruangan untuk pasien memerlukan penerangan buatan yang memenuhi persyaratan klinik dari staf medis dan sekaligus menciptakan suasana menyenangkan penuh optimisme bagi para pasien. (Standar Penerangan Didalam Gedung-Gedung,1985).

2.   Penyehatan Air

     a.   Belum adanya pemeriksaan berkala pada air secara bakteriologis

         Pemeriksaan air pada RSUD Karangasem belum terlaksana secara berkala dimana mengingat fungsi rumah sakit sebagai tempat pengobatan dan perwatan orang sakit dengan berbagai aktifitasnya maka seharusnya frekuensi pengambilan sample untuk pemeriksan bakteriologis air dapat dilakukan sertiap bulan sekali sedangkan u7ntuk unit-unit yang cukup rawan seperti kamar operasi ,unit IGD,ICU serta dapur (tempat pengolahan makanan) maka pengambilan sampeldapat dilakukan setiap seminggu sekali. Untuk pengambilan sample pemeriksaan kimiawi,frekuensi pengambilan dilakukan setiap 6 bulan sekali.(Pedoman Sanitasi RS Di Indonesia, 1995)

 3. Penanganan sampah dan limbah medis

a.   Plastik pembungkus limbah tidak diisi label dan warna pembunkus masih 1 warna.

               Pembungkus limbah klinis di RSUD Karangasem memakai kantung plastic biasa yang dijual dipasaran dan berwarna merah serta tidak diisi label . Warna dan label (kode) pada kantung plastic bertujuan untuk memudahkan mengenal berbagai jenis limbah yang akan dibuang ,umumnya menggunakan warna dan symbol yang berbeda . Menurut buku Pedoman Sanitasi Rumah Sakit Indonesia.1995, dan Pedoman Teknis Pengelolaan Limbah Klinis dan Desinfeksi dan Sterilisasi RS. Kode standar hanya diusulkan untuk 3 golongan sampah yang paling berbahaya yaitu:

-      Sampah Infeksius : Kantong berwarna kuning dengan symbol biohazard yang telah dikenal secara internasional berwarna hitam.

-       Sampah citotoksik : Kantong berwarna ungu dengan symbol limbah citotoksik (berbentuk cell dalam telo plasma)

-       Sampah radioaktif : Kantong berwarna merah dengan symbol radioaktif yang telah dikenal secara internasional.

b.   Belum adanya tempat khusus untuk membuang abu dari incenerator

                     Sampah medis yang dibawa ke tempat pembakaran atau incinerator akan mengalami proses pembakaran didalam incinerator dan akan mengasilkan sisa hasil pembakaran berupa abu. Abu incinerator pda RSUD Karangasem dibuang dibelakang incinerator dan belum adanya tempat pembuangan khusus yang berakibat merusak estetika dari lingkungan Rumah Sakit itu sendiri, maka dari itu sebaiknya ada tempat khusus untuk membuang abu incinerator.

 

 4. Penyehatan laundry / tempat pencucian linen

     a.   Volume septitank pada I.laundry  sudah jenuh sehingga balik meluap ke inlet.

         Limbah cair pada instalasi laundry RSUD Karangasem sudah jenuh sehingga limbah balik meluap ke inlet sebaiknya dalam pengelolaan yaitu sejak dihasikan sampai dengan pembuangan dikelola dengan cara yang benar seperti septitank dipersiapkan bahwa pemakaian air setiap harinya dan besarnya septitank yang ditetapkan agar  seimbang sehingga memberi pengaruh positif terhadap lingkungan masyarakat didalam danm luar RS. Limbah cair RS  yang tidak dikelola dengan baik dapat mengakibatkan pencemaran sumber air,ganguan kesehatan masyarakat didalam dan luar RS.(Pola Dasar RS,1988)

     b.   Area penjemur pakaian sempit

         Linen yang telah habis dicuci akan mengalami tahap-tahap berikutnya seperti diperas,dikeringkan pada mesin pengering ataupun dijemur dengan bantuan sinar matahari secara langsung atau proses lainnya,sehingga masih mungkin terkotaminasi ulang. Pada RS ini linen yang telah selesai dicuci dikeringkan dengan bantuan matahari secara langsung akan tetapi area tempat penjemuran pada rumah sakit ini sempit dan tidak seimbang dengan banyaknya linen yang ada. Dan sebaiknya area untuk menjemur  diperluas agar tidak menggangu  proses pengeringan linen apalagi sewaktu musim hujan akan lebih tersendat dalam proses pengeringan .

 

 5. Upaya Penyehatan Makanan dan minuman.

a         Pertemuan dinding dan lantai membentuk sudut mati

Pertemuan dinding dan lantai yang membentuk sudut mati merupaklan tempat berkembangbiaknya bakteri penyebab penyakit,karena pertemuan tersebut tidak dapat dibersihkan secara sempurna yang disebabkan sudut yang terbentuk tidak dapat dijangkau oleh alat pembersih atau alat pada lantai. Percikan makanan,minyak dari hasil pengolahan makanan yang jatuh di sudut tersebut akan melekat dan sulit dibersihkan.Percikan tersebut dapat sebagai nutrient untuk pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme. Pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme dapat dikhawatirkan mengkontaminasi bahan makanan dan makanan jadi, yang nantinya dapat memberikan gangguan kesehatan terhadap pasien . Dalam membersihkan lantai dengan sudut mati harus dilakukan sebaik-baiknya sehingga sisa makanan,minyak tidak menem,pel .Pembersihan lantai sebaiknya menggunakan kain pel yang lentur dan kuat dan juga menggunakan densinfectan.

b.   Penjamah makanan tidak menggunakan topi dan sarung tangan

         Dalam buku Sanitasi Makanan dan Minuman pada Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi didalam pengolahan makanan, penjamah makanan dianjurkan menggunakan topi kerja yang bertujuan untuk melindungi makanan dari rambut yang terjatuh pada saat pengolahan makanan.Rambut yang terjatuh dapat dapat memberikan kesan yang tidak enak (jijik) pada pasien. Disamping itu,rambut yang terjatuh juga dapat mengandung mikroorganisme yang dapat mengkontaminasi makanan,mengingat kulit kepala banyak mengandung debu, kotoran, minyak, kerringat sebagai aktivitas mengolah makanan.Tempat tersebut merupakan tempat yang berpotensi sebagai pertumbuhan mikroorganisme yang dapat memberikan gangguan kesehatan terhadap pasien.Sehingga kesadaran penggunaan topi kerja oleh penjamah makanan perlu ditingkatkan dengan memberikan himbauan atau memasang tulisan yag berisikan himbauan penggunaan pelindung kepala (topi kerja) pada saat mengolah makanan.  

c.   Kebiasaan penjamah makanan berbicara/ ngobrol saat mengolah makanan.

               Kebiasaan mengobrol pada saat mengolah makanan dapat mengkontaminasi makanan yang berupa air ludah yang bercampur dengan mikroorganisme yang keluar pada saat mengobrol.Kontaminasi tersebut tentunya juga dapat memberikan gangguan kesehatan. Peningkatan kesadaran para penjamah makanan sangat perlu ditingkatkan

      mengingat penjamah makanan memegang peranan penting dalam penyebaran penyakit. Kesadaran para penjamah makanan dapat ditingkatkan melaluio instruksi-instruksi dan pemasangan tulisan yang berisikan himbauan kepada para penjamah makanan agar tidak mengobrol atau banyak berbicara pada saat mengolah makanan. Dalam buku   Sanitasi Makanan dan Minuman pada Instutusi Pendidikan Sanitasi ,bahwa para penjamah makanan harus menjaga personal hygiene seperti: tidak meludah, tidak mengiobrol, btidak bersin dan batuk seenaknya pada saat pengolahan makanan.

d.  Pencucian alat makan dan bahan makanan belum mengunakan air panas.

               Pencucian alat dan bahan makanan tidak menggunakan air panas pada Rumah sakit ini,untuk bahan makanan tersebut diungkinkan masih adanya debu atau kotoran lain yang masih melekat.Penjamah makanan seharusnya lebih membperhatikan kebersihan bahan makanan dengan melakukan pencucian ulang dan dan menggunakan air panas, begitu juga untuk alat makan.Sesuai dengan Buku Sanitasi Makanan dan Minuman Pada Institusi Pendidikan Sanitasi bahwa bila bahan makanan tersebut dimakan langsung ,seperti buah-buahan ,digunakan pencuci air mendidih (yang didihkan 30 menit) ataupun air yang mengandung chlorine 50 ppm sedangkan untuk alat makan dan masih menggunakan alat cuci manual ,maka harus diperhatikan urutan pencucian. Sebaiknya menggunakan 3 bak ,yaitu untuk mencuci , membilas dan mencuci hama. Bak pertama diisi dengan air panas 40˚C dan detergen yang sesuai, tangki kedua diisi dengan air hangat untuk membilas dan tangki ketiga diisi air panas 77˚C untuk mencuci hama dengan merendam selam 30 detik. Sebagai alternative air panas dapat digunakan larutan chlorine 200 ppm atau yodium 25 ppm.

 6. Pengendalian Serangga dan Tikus

a.   Ditemukan jentik nyamuk aedes aegepty

         Jentik nyamuk ditemukan pada pot bunga berukuran besar di depan ruang VIP. Sebaiknya  selalu dibersihkan dan dilkukan penataan agar tidak ada genangan air pada tanaman tersebut karena akan berpotensi sebagai empat berkembangbiaknya nyamuk. Didalam Kepmenkes no.1204 tahun 2004 mengatakan persyaratanm untuk kepadatan jentik nyamuk aedes aegepty di lingkungan rumah sakit yang diamati melalui indeks container harus nol (0). Pengamatan terhadap jentik nyamuk dapat dilakukan seminggu sekali melalui gerakan PSN.

      b.   Ditemukan binatang liar  seperi kucing dan anjing

         Terdapatnya binatang liar di lingkungan Rumah sakit seperti kucing dan anjing dapat  mengganggu estetika di lingkungan rumah sakit,binatang ini juga dapat menimbulkan gangguan kenyamanan terhadap pasien melalui suara-suara yang ditimbulkan misalnya pada saat berkelahi . Penanganan terhadap hewan liar dapat dilaksanakan denganjalan penangkapan dan dibuang jauh dari rumah sakit,serta berkerja sama dengan dinas atau instansi perternakan setempat.(berdasarkan Kepmenkes No.1204 tahun 2004)

 

 

 

 

 

A.   Kesimpulan

1        Kebisingan  pada masing-masing ruangan masih tinggi yakni pada sal mawar 52,1 dBA,sal kenanga 49,8 dBA dan VIP 52,0 Dba.Pencahayaan pada sal mawar 25 Lux tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan Kepmenkes No.1204 tahun 2004.

b.              Penyediaan air bersih bersumber dari PDAM dan didistribusikan dengan system perpipaan dan air bersih yang digunakan untuk kegiatan rumah sakit belum diperiksa secara berkala untuk pemeriksaan air secara bakteriologis.

c.               Pengumpulan dan pemisahan limbah medis padat dilakukan pada masing-masing ruangan seperti: OK, Sal dan ruangan lainya.Pembungkusan menggunakan kantong plastic berwarna merah dan diangkut ke incinerator oleh petugas cleaning service.Sedangkan limbah cair dari masing-masing ruangan disalurkan ke septitank.

d.              Pada saat mengolah makanan,para penjamah makanan tidak menggunakan topi kerja, kebiasaan mengobrol pada saat mengolah makanan, pertemuan dinding membentuk sudut mati dan pencucian alat makan dan bahan makanan tidak menggunakan air panas.

e.               Volume septictank pada instalasi laundry sudah jenuh sehingga air balik meluap ke inlet.Area untuk menjemur linen sempit sehingga pengeringan linen dengan bantuan sinar matahari jadi tersendat.

f.               Ditemukanya jentik nyamuk aedes aegepty di pot bunga berukuran besar serta ditemukanya bintang liar seperti kucing dan anjing di area rumah sakit.

                                                                                                       

    

B. Saran

 

1.            Sebaiknya disetiap ruangan dipasang himbauan untuk tidak bersuara keras, mengecilkan suara HP, radio, dsb.Penambahan lampu-lampu disetiap ruangan untuk menambah intensitas cahaya.

2.            Sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara berkala seperti pemerikasaan air secara bakteriologis dan adanya komunikasi dari pihak RS ke Dinas Kesehatan gar melakukan pemeriksaan secara rutin.

3.            Pembungkusan limbah medis sebaiknya menggunakan kantonmg berwarna dan diisi label sesuai dengan jenis limbah medis, serta dalam pembuangan abu incinerator disediakan tempat khusus agar tidak merusak estetika.

4.            Penjamah makanan seharusnya dibiasakan menggunakan topi kerja , dipasang himbauan untuk mengurangi mengobrol saat berkerja.Melaksanakan pencucian bahan makanan dengan menggunakan air panas.

5.            Sebaiknya ukuran septitank disesuaikan dengan volume limbah laundry agar tidak terjadinya kemampetan sehingga membuat air meluap dan memperluas area penjemuran.

6.            Melaksanakan kegiatan PSN (Pemnberantasan Sarang Nyamuk) seminggu sekali di areal rumah sakit, menangkap dan membuang binatang liar di arel  rumah sakit atau berkerja sam dengan dinas peternakan.

 



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: